Wednesday, September 02, 2020

Preparing Our Kids For The Future


Do not raise your children the way [your] parents raised you, they were born for a different time.

(Ali Bin Abi Thalib)

☘☘☘


Kami sekeluarga menyukai dunia digital dan teknologi. Dunia digital dan teknologi tidak akan berhenti dan akan terus tumbuh dan berkembang. Karena itu kami sadar bahwa sebagai orangtua kami harus membantu dan mendampingi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang bersama teknologi untuk membentuk jati diri dan memperluas kemampuan mereka agar menjadi dewasa yang sehat.

Di zoominar #LaunchingRuangTumbuhSelatan bertepatan dengan #DuaTahunRuangTumbuh 2 Agustus 2020 yang lalu, Doktor @sakapurnama dari @ruangtumbuh.id
dan Ibu Fransisca Oetami dari @cleviocamp berbagi tentang kompetensi yang perlu dikembangkan dan optimalisasi potensi anak untuk menghadapi era baru.
Secara garis besar, ada 3 kompetensi yang perlu dipelajari anak (dan orangtua), yaitu; literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Selain itu penting juga untuk mengembangkan karakter ALIVE; Agile, Leadership, Innovative, Virtuous, dan Entrepreneurial. 

Begitu pula dengan optimalisasi potensi anak untuk menghadapi era baru, penting banget bagi kita orangtua menjadi teladan untuk menerapkan karakter yang kuat berkaitan dengan #ikigai masing-masing.

Kece banget deh ilmunya, seperti biasa makasih banget @febiesamatha undangannya! Thanks & sukses selalu, @ayankirma @vita_hestynovita @ruangtumbuh.id & @cleviocamp! Semoga Allah mudahkan untuk penerapannya 😊

☘☘☘


Saturday, August 29, 2020

KOMUNIKASI DUA ARAH DENGAN ANAK REMAJA SELAMA #DIRUMAHAJA (10-16 YO)

As we know, otak remaja itu masih under construction, alias belum matang. Makanya walaupun fisiknya sudah lebih tinggi dari saya, Enzo tuh masih kayak anak-anak, walaupun dia sendiri gak mau dibilang anak-anak. Ganteng belum, tapi lucu juga udah enggak. Pantesan dulu jaman ABG saya sering banget dimarahin sama Ibu Bapak, padahal perasaan gak bikin salah yang gimana gitu, cuma latihan cheerleader sampe jam 10 malem doang 😅

Beda dengan jaman saya dulu yang kalau dimarahin Bapak ya diem aja nunduk-nunduk menitikkan air mata seolah dunia tak mengerti aku, anak-anak sekarang kalau dimarahin gak terima, terang-terangan kasih lihat kalau dia gak suka dimarahin. Dilembutin ngelunjak, dikerasin juga nanti menjauh. 

Hmm..jangan-jangan memang saya yang kurang sabar dan kurang ilmu ya? Katanya memang fasenya orangtua banyak-banyak istighfar, memohon ampun sama Allah SWT. Udah waktunya juga buat orangtua untuk banyak-banyakin ibadah, banyak-banyakin sabar dan shalat; karena sabar dan shalat adalah penolongmu 😅
Anyway, diambil bagusnya aja deh, berarti anakku jujur mengemukakan pendapat. Alhamdulillah, sambil istighfar juga semoga Allah kasih sabar yang banyak. Tapi kan sabar itu bukan pasrah diam aja, harus gerak juga biar ada solusi. Kalau kata Bu Tedjo, 
"Dadi wong ki mbok yo sing solutip ngono yo."

Nah, makanya seneng banget waktu sahabatku si baik hati @febiesamatha undang aku untuk ikut zoominarnya @teentastic.id @monikatanu x @ruangtumbuh.id yang mengangkat tema komunikasi dua arah dengan anak remaja. Mbak Psikolog cantik @ayankirma menjelaskan dengan rinci dan jawab-jawabin semua pertanyaan tentang #teens di sini. Lengkap banget teorinya, tinggal praktiknya aja nih yang harus rela dan banyak minta kemudahan.

Makasih banyak buat ilmunya! Insya Allah berkah dan bermanfaat banget 💚


So by mercy from Allah, you were lenient with them. And if you had been rude [in speech] and harsh in heart, they would have disbanded from about you. So pardon them and ask forgiveness for them and consult them in the matter. And when you have decided, then rely upon Allah . Indeed, Allah loves those who rely [upon Him].

(Ali Imran: 159)

☘☘☘


#mamaeka101
#enzoyudhistira

Monday, May 04, 2020

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020; Belajar dari Covid-19


Sejak diumumkannya kasus pertama positif Virus Covid-19 di Indonesia, pemerintah mengambil langkah pencegahan penularan; salah satunya dengan menghentikan kegiatan belajar-mengajar di sekolah, termasuk meniadakan UNBK. Bahkan Pemprov DKI Jakarta sudah menerbitkan PSBB. 

Pada Hari Senin 14 Maret 2020, anak-anak saya, Enzo dan Dante mulai belajar dari rumah (home learning/ SFH). Begitupun suami, mulai bekerja dari rumah (WFH). Banyak hal yang berubah. Kami jadi terbiasa belajar dan bekerja online menggunakan berbagai tools; google class room, google meeting, zoom, membuat video, membuat poster, membuat laporan dari foto-foto dan berita dari internet. 


Kami juga terbiasa memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer, menyemprot cairan disinfektan, berperilaku lebih bersih dari biasanya, agar tetap aman dan selamat. 

Saya sebagai ibu rumah tangga, kini dituntut untuk berperan lebih sungguh-sungguh menjadi apa saja; menjadi guru, koki, manajer keuangan, direktur GA di rumah. Kondisi #dirumahaja bagi saya merupakan hal biasa, yang tidak biasa adalah kehadiran suami dan anak-anak 24 jam di rumah. Apalagi rumah kami minimalis, jadi terasa penuh karena semua orang beraktivitas di dalam rumah. Awalnya sayapun merasa sedikit kehilangan momen me-time. Terutama untuk menonton televisi. Televisi di rumah kami hanya satu, dan semua penghuni rumah masing-masing memiliki 1-1.5 jam hak untuk menonton televisi, dan seleranya juga berbeda-beda. Jadinya waktu saya untuk menonton drakor jadi berkurang, memang ada waktu ketika anak-anak sudah tidur, tapi itu sudah larut malam, saya keburu ngantuk. 

Minggu pertama tanpa menonton televisi terlewati begitu saja karena aktivitas saya sebagai ibu guru dadakan sangat padat 😄 Ternyata hidup tanpa menonton televisi itu biasa saja, dan ternyata saya baik-baik saja. Malah jadi ada ruang untuk saya membaca buku-buku yang sudah dibeli tapi belum sempat dibaca. Ada ruang pula untuk mulai menulis blog, dan ada ruang pula untuk mengajar dan beramal secara online.

Secara financial, alhamdulillah dengan #socialdistancing ini malah lebih hemat. Biaya BBM, Toll, dan transportasi (jemputan sekolah dan ojol), otomatis berkurang. Biaya konsumsi untuk jajan-jajan di luar juga berkurang. Biaya entertainment seperti makan-makan di cafe/ resto untuk arisan, nonton bioskop, karaoke bersama geng ibu-ibu, biaya perawatan ke klinik kulit, ke salon, barbershop, otomatis hilang. Biaya-biaya ekskul dan les privat juga hilang. Memang sih, biayanya teralihkan ke biaya listrik, telepon dan internet yang lebih besar, juga biaya makan-minum di rumah. Tapi, bila dirinci, tetap jauh lebih hemat. 

Waktu untuk beres-beres di rumah juga jadi lebih banyak. Jadi menemukan banyak barang layak pakai yang bisa disumbangkan, rumahpun terasa lebih lega dengan berkurangnya barang-barang tersebut. Malah saya berkesempatan mengadakan kelas online dengan topik minimalisme, yang seluruh biayanya disumbangkan untuk salah satu komunitas yatim. 
Alhamdulillah, Allah Maha Penyayang 😊

Semoga Pandemi Corona ini segera berakhir dan kita dapat kembali beraktivitas, bersilaturahmi, dan kembali produktif. 
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020; semoga banyak pelajaran yang kita dapat dari Covid-19 ini.



Tuesday, April 28, 2020

Doa Sapu Jagat

Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.⁣
⁣
(Al-Baqarah: 201)⁣
⁣
Tuhan kami, beri kami kebaikan di dunia:⁣
1. Iman⁣
2. Afiat; kesehatan dan terpelihara dari siksaan Allah⁣
3. Rejeki yang memuaskan⁣
4. Pasangan yang serasi⁣
5. Anak dan keturunan yang shalih⁣
⁣
Tuhan kami, beri pula kami kebaikan di akhirat:⁣
1. Rasa aman dari rasa takut yang mencekam⁣
2. Perhitungan yang mudah⁣
3. Masuk surga⁣
4. Mendapat ridha Allah⁣
5. Melihat wajah Allah⁣
⁣
⁣

Selamat merayakan hari lahir dengan shaum dan banyak bersyukur, Papa @tonypopz 🌻⁣

Semoga Allah selalu sayang 💚⁣
⁣
Aamiin.⁣
⁣
⁣
(Disarikan dari Kajian Abi @quraish.shihab tentang Doa Sapu Jagat)⁣
⁣
⁣

Friday, April 24, 2020

Bahagia Menikmati Hidup


Our (h)eart(h) breaks, heals, and becomes stronger again.

Sudah sekitar 1.5 bulan kita melakukan #socialdistancing dengan #workfromhome. Hari ini juga kita memulai ibadah shaum hari pertama. Ramadan istimewa tahun ini dimulai di Hari Jumat, hari yang sangat baik. Semoga Allah memudahkan dan memberkahi shaum kita Ramadan ini. Hari ini Allah menganugerahkan hujan, membuat saya betah lama-lama menikmati hujan #dirumahaja. Sudah lama saya gak mengambil jeda untuk menikmati hal-hal sederhana seperti ini. Rasanya damai sekali 💚

Pikiran saya berjalan ke tahun 2018 yang merupakan wake up call bagi saya. Kehilangan ibu dan bapak tercinta, kehilangan hobi, pekerjaan yang disukai, kehilangan kepercayaan pada orang-orang terdekat. Kesibukan suami di pekerjaan, kesibukan anak-anak yang semakin padat di sekolah, membuat saya insecure, merasa kesepian dan ditinggalkan. Parahnya lagi, saya tidak menyadari bahwa saya kehilangan, tepatnya menyangkal. Saya tetap menjalani rutinitas seperti biasa, malah overthinking dan makin mencari-cari kesibukan dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Saat itu saya pikir, dengan banyak kesibukan, rasa sakit karena kehilangan itu akan hilang sendiri. Saya yang ahli savasana ini (baca: rebahan), sampai ikut kelas muaythai saking gabutnya, saking gak mau disebut ketinggalan jaman. Berulang kali dirawat di Rumah Sakit karena "kecapaian" akhirnya membuka mata hati saya: bahwa semua kesibukan itu makin membuat saya kehilangan jati diri.

Saat dirawat di RS saya berpikir (sedikit 😅) bahwa semua orang menginginkan panjang umur, tapi pasti semua orang akan mati. Meskipun begitu, kita tetap punya pilihan, apakah ingin menghabiskan sisa usia dengan menginap di kamar Rumah Sakit dan duduk-duduk di kursi roda, atau ingin mengisi sisa usia kita dengan hidup sehat, bahagia, sejahtera, aman, nyaman, tentram dan damai. Tentunya pilihan saya adalah yang kedua.





But how to start?

Know ourselves and know our Rabb. Maafkan diri kita dan beristighfar pada Allah Yang Maha Pengampun, maka Allah akan memberi jalan keluar. 

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” 

(QS. Al-Baqarah [2]: 222)


Allah memang Maha Pemberi dan Penyayang, memberi saya banyak sekali cahaya menuju perjalanan memperbaiki diri. Katanya apa yang kita pikirkan dan ucapkan, akan kembali pada kita sendiri. Allah menuntun saya untuk meninggalkan semua keburukan: rasa malas, kesepian, toxic relationship, lalu menggantinya dengan orang-orang, kegiatan dan lingkungan yang jauh lebih sehat.
 

Saya mulai menulis blog lagi, mengambil banyak kelas pengembangan diri dan mulai mengajarkannya, memilih pekerjaan, kegiatan, makanan, olahraga bahkan teman yang sesuai dengan value dan kepribadian saya. Salah satu kebaikan Allah adalah, saya diperkenalkan dengan channel edukasi Satu Persen @satupersenofficial yang membuat saya lebih open minded dalam menikmati hidup.

Saya belajar menikmati hal-hal kecil, merayakan pencapaian-pencapaian kecil yang saya dapat dengan rasa syukur. Mengubah pola pikir yang meyakini bahwa segala sesuatu yang ideal adalah:
menyederhanakan, mengurangi konsumsi, tidak bertindak tidak tergesa-gesa dan bertindak penuh perhatian dan fokus, dan menikmati hal-hal sepenuhnya.

Fokus hanya pada hal-hal kecil yang menyenangkan;
- Menikmati makan bersama, gigit, kunyah dan rasakan makanan yang kita masak untuk keluarga.
- Menikmati waktu berjemur, hangatnya sinar matahari, olahraga ringan yang kita lakukan bersama pasangan dan anak-anak, atau bersama pelatih dan teman-teman melalui aplikasi zoom dll.
- Menikmati lukisan langit yang makin hari semakin indah.
- Menikmati lembut dan wanginya seprai yang baru kita ganti.
- Menikmati wangi dan hangatnya baju yang baru saja kita setrika.
- Menikmati segarnya wangi lantai yang baru saja kita pel.
- Menikmati bersihnya layar TV yang baru saja kita lap (karena biasanya kita hanya menikmati adegan2 di layar TV saja tanpa memperhatikan debu yang menempel pada layar TV).
- Dan yang terpenting adalah fokus pada orang-orang tercinta yang bersama kita di rumah saat ini.

Bahagia saya adalah menikmati momen bersama mereka, menyimak dengan apa yang mereka katakan dan ceritakan.

Hadir here and now tanpa pikiran menerawang kemana-mana,menikmati saat-saat ketika kita tersenyum, tertawa bersama mereka, penuh cinta 💚


 

#SatuPersen percaya bahwa setiap orang bisa berkembang dan berdaya. Sejak awal tahun 2019, Satu Persen telah berkontribusi besar dalam pemberian konten edukasi kesehatan mental dan pengembangan diri. Layanan Satu Persen, mulai dari mentoring, konseling, kelas dan lainya telah membantu banyak orang termasuk saya untuk bangkit dan menjadi berdaya.

Satu Persen mengajari hal-hal penting yang belum diajarkan di sekolah. Satu Persen juga membantu saya menyeimbangkan jari-jari roda kehidupan saya agar sama panjang dan seimbang sehingga roda kehidupan dapat berputar dengan baik. Satu Persen membantu saya menyingkirkan halangan-halangan berupa kemalasan, keluar dari toxic relationship dan mengatasi kesepian melalui artikel-artikel dan program-programnya yang lengkap dan diolah dengan santai namun bermanfaat. Bukan hanya itu, Satu Persen juga membantu saya menemukan my IKIGAI, yang membuat hidup saya lebih bermakna, bermanfaat, dan seimbang untuk meraih makna dan kebahagiaan sejati dalam hidup.

Feel free untuk mengunjungi semua link dalam artikel ini, juga mengunjungi berbagai artikel dengan hashtag #SatuPersenBlogCompetition di Instagram untuk mendapatkan banyak pencerahan dari Satu Persen.





Monday, April 20, 2020

Minimalism; Merapikan Rumah Sebagai Kegiatan Terapeutik


Kamis-Sabtu 16-18 April 2020 kemarin saya berkesempatan berbagi dan memandu teman-teman di kelas kulwap @mamacommid memulai perjalanan hidup minimalisme sebagai kegiatan terapeutik selama masa karantina #dirumahaja.



Petikan ayat-ayat dari Surat At-Takatsur ini intinya mengecam orang-orang yang hidup bermegah-megahan, berbangga-bangga, dengan kebanggaan yang bukan pada tempatnya. Yang berlomba-lomba bersaing untuk memperbanyak sesuatu, yang walaupun baik, namun melengahkan dari hal yang penting atau yang lebih baik. Yang melakukan suatu pekerjaan dengan mengabaikan sesuatu yang lebih penting.



Minimalisme dapat dicapai semua orang, tapi kadang kita tidak tahu dari mana memulai, karena ada banyak hal yang harus dilakukan dan dipikirkan.

Kita bisa mulai dari sini:

Sadari bahwa kita sudah hidup berkecukupan, dan tidak perlu membeli berbagai barang. Sangat penting untuk merasa cukup dengan apa yang sudah kita punya, agar tidak terjebak dalam siklus kerakusan yang tak berujung.

Segera bereskan dan rapikan barang-barang kita. Tidak masalah itu dilakukan dalam 1 jam ataupun 1 minggu, yang terpenting adalah mulai bertindak.

Sederhanakan jadwal. Jangan bebani diri dengan banyak tanggung jawab, hapus kegiatan2 yg tidak perlu dari jadwal, fokus pada hal2 penting agar kita bisa bernapas lega.

Pilah semua kegiatan. Kenali yg penting dan tidak penting berdasar #LensaIman. Proses ini dilakukan terus menerus.


Keempat langkah ini sangat sederhana dan kondisi Pandemi seperti saat ini mendukung kita untuk melakukannya #dirumahaja.



Semua langkah ini dapat diterapkan dalam kehidupan kita meliputi keadaan rumah, makanan, kebugaran, keuangan, keluarga, dsb. 
Terima kasih teman2 yang sudah duduk belajar, #BeberesTipis2 dan berdonasi bersama @mamacommid. Terima kasih @tkp_berbagikebahagiaan sudah membuka pintu jalan kebaikan bagi kami 😊


#EkaGobelXMamacommID
#mamaeka101

Wednesday, April 15, 2020

Heal Our Critical Thinking; How to Deal with Hyperconnected World


Pendidikan yang kita dapatkan di rumah, di sekolah, pengalaman kita, cerita dari orang terdekat, dan kenyataan yang kita lihat setiap hari merupakan sumber-sumber pengetahuan kita untuk akhirnya memutuskan. Namun, kita juga berhadapan dengan banyak sekali informasi yang bikin kita mulai ragu mengambil keputusan.⁣
Kalaupun mau ambil, kadang kita ikut keputusan mayoritas. Biar aman. Biar ga disangka aneh.⁣
⁣
Nah, di sinilah #CriticalThinking berperan. Untuk mencari keputusan terbaik, khususnya yang sesuai dengan diri kita. Untuk itu sangatlah penting untuk memahami diri kita sendiri terlebih dahulu.⁣
Namun yang paling penting adalah KNOW YOUR RABB, keputusan apa yang Allah paling sukai? Iringi dengan doa, di awal, saat, dan setelah mengambil keputusan, maka Allah lapangkan hati kita apapun konsekuensi dari keputusan yang kita ambil.⁣
⁣
Kadang kita lupa, bahwa otak dan hati kita yang dikasih Allah secara gratis dan berfungsi ini dapat diutilisasi secara maksimal. Kita lupa bahwa kita bisa berpikir walaupun kita bukan juara kelas. Menganggap remeh keputusan-keputusan kecil hasil pemikiran kita padahal itu kinerja otak kita.⁣
⁣
What we should do next is to expand our mind and heart untuk berhadapan dengan banyaknya sumber informasi yang akhirnya bisa menentukan keputusan kita.⁣
⁣
Dengan hati yang terpaut ke Allah, insyaaAllah walau sambil nangis, kita bisa tetep optimis.⁣
Lakukan dengan maksimal apa yang menjadi bagian kita, dan perbaiki koneksi ke Allah dengan maksimal pula.⁣
⁣
Critical thinking is just a way to think, not the only way to approach questions, dan semua cara berpikir (mau itu critical, creative, design, dst), semuanya akan sempurna kalau kita pake lensa iman 💚⁣
⁣
Terima kasih lil sister @deichanela yang sudah berbagi ilmu dan @healyourself.id yang sudah memfasilitasi 10 April 2020 lalu. Semoga menjadi ladang pahala dan bekal untuk hisab nanti.⁣
⁣
Semoga Allah mudahkan kita semua untuk bisa terus mendekat kepada-Nya, dibidang apapun kita sekarang diamanahkan ❤️🤎💚⁣

#fightingforhealing
#healingyourself

Sunday, April 12, 2020

We're on The Right Track⁣⁣


⁣⁣
Setiap orang adalah pencipta kebahagiaannya. Kita selalu memiliki pilihan untuk melanjutkan perjalanan dan menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan baru.⁣⁣
⁣⁣
Kita memiliki pilihan untuk bebas mengubah pikiran kita dan hidup lebih berbahagia. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tapi yang terpenting adalah terlebih dulu memaafkan dan mencintai diri sendiri sebelum memaafkan dan mencintai orang lain.⁣⁣
⁣⁣
Kitapun memiliki pilihan untuk mengubah negative self-talk dan pikiran negatif kita menjadi kata-kata dan pikiran yang positif. Fokus pada keberlimpahan, kesehatan, kebahagiaan dan kedamaian kita.⁣⁣
⁣⁣
Thank you, Kak @arty.ardiwinata untuk ilmunya di kelas Be Happier 9 April 2020 lalu. ⁣⁣
May Allah SWT bless and love you more!⁣⁣
⁣⁣
#mamaeka101

Saturday, April 11, 2020

This is The Year I'm Doing Things Differently


Awal tahun lalu sudah merencanakan bahwa tahun ini akan bikin banyak project dari rumah. Secara suami dan anak-anak makin sibuk di luar, jadi biar gak merasa "ditinggalkan" aku sudah menyusun banyak Plan B yang akan aku lakukan di rumah. Biar asyik sendiri, gak sedih karena sendirian #stayathome.

Ternyata, karena #socialdistancing, sudah hampir sebulan aku ditemani suami dan anak-anak #dirumahaja. Project yang sudah direncanakan tetap jadi, tapi gak smooth seperti yang dibayangkan. Aku gak mengeluh, aku seneng, karena aku "gak jadi mereka tinggalkan" :) Hanya saja project Plan B itu memang bukan didesain untuk kondisi rumah ramai seperti ini.

Mungkin ini cara Allah buat ngasih tau, kalau aku gak perlu lebay sok sedih kalau suami pergi bekerja, atau anak-anak pergi sekolah dan ekskul. Karena ternyata ketiadaan mereka yang hanya sementara itu kemewahan buatku. Saat mereka sibuk di luar rumah, aku bisa beres2 rumah dengan tenang, goler2 manja depan TV sambil meluk stoples chips dan nonton drakor tanpa ada yang protes, juga nyetrika baju sambil smule-an dengan jerit-jerit menjiwai tanpa ada yang merasa terganggu.

So when life gives you lemons, eat them all 🍊

Monday, March 02, 2020

Mengajar dan Berkreasi⁣⁣⁣⁣




Beberapa perubahan kecil yang saya ingin lakukan tahun ini adalah lebih sering mengajar dan berkreasi. Mengajar di lingkup yang lebih luas, bukan hanya mengajar #EnzoDante mengerjakan PR; dan berkreasi mandiri, bukan hanya membantu #EnzoDante mengerjakan prakarya tugas dari sekolah. 

Sering kepikiran sih, NANTI ingin bikin ini bikin itu, NANTI ingin mengajar ini mengajar itu. Alasannya selalu gak ada waktu. Tapi kalau nanti-nanti terus dan we never make time of it, ya gak bakalan terwujud. So when we hear the words " I CAN'T" or "NANTI"; MAKE TIME and START MAKING something!⁣⁣


Makanya, senang banget waktu team @binarpendar.id dan Mbak @ricebasko mengajak saya berkolaborasi membantu ibu-ibu Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Lingkungan Intelijen di Kejaksaan Agung RI berkreasi dan belajar berbisnis dengan membuat kalung batik tanggal 28 Januari 2020 lalu. Selain menikmati proses berkarya membuat kalung batik, ibu-ibu juga banyak belajar tentang proses produksi dan jual-beli karya seni. 

Tambah senang deh saya melihat antusiasme para ibu yang semangat berkarya dan belajar. Suasananya hangat dan energi yang dibagi di kelas positif sekali. The power of ibu-ibu hebat yang penuh cintanya terasa sekali :)⁣⁣

⁣
Enjoying creativity without standards is true happiness. Thank you for trusting me, Mbak @ricebasko dan Ibu Nina Jan Maringka dari IAD Kejaksaan RI, dan Kak @siskaknoch, @anindityas, dan @diraarmanda dari Team #BinarPendar. 
May you be truly happy!⁣⁣


⁣⁣
#mamaeka101⁣⁣
#arttherapy⁣⁣
#ekagobelxbinarpendar